Pages

Search This Blog

Showing posts with label penulis. Show all posts
Showing posts with label penulis. Show all posts

Friday, January 2, 2026

Publikasi Buku "Komunikasi Organisasi sebagai Strategi Kesuksesan Bisnis"

Buku merupakan salah satu jendela dunia dan juga menjadi penyambung antara ilmu pengetahuan serta kemampuan pemikiran kita. Bayangkan jika dunia ini tidak ada buku, pastinya ilmu pengetahuan tidak berkembang semaju sekarang ini. Atau bahkan tidak adanya pemikir-pemikir yang menyumbangkan ide atau gagasan mereka demi perkembangan dunia, maka slogan iklan “apa kata dunia?” benar adanya. Untuk postingan blog gue kali ini, gue mau membahas tentang buku. Jarang-jarang kan gue bahas buku nih disini hehehe.. Yok kita bahas dan bedah soal sebuah buku komunikasi..

 

Adanya Ajakan Untuk Menulis Buku

Menulis memang menjadi salah satu hal yang gue suka. Bahkan di dalam dunia profesional pun gue juga berkecimpung di dalam dunia merangkai kata-kata ini. Gue memang suka untuk menceritakan suatu kisah, kejadian, ataupun menuangkan ide-ide di dalam sebuah artikel dimana gue berharap artikel tersebut bisa menjadi inspirasi bagi orang-orang yang membacanya.

Perlu diketahui bahwa gue sendiri saat ini sekarang berprofesi sebagai tenaga pendidik di kampus swasta. Namanya dosen ya lo tau kan ya dimana kita harus bisa mengimplementasikan ilmu pengetahuan dan juga ide-ide supaya bisa menjadi sumber ilmu bagi masyarakat luas. Dalam hal ini, gue memang sudah mempublikasi beberapa jurnal penelitian dalam skala nasional di dalam bidang ilmu komunikasi khususunya.

Nah suatu ketika, gue berkontak dengan salah satu mentor dan juga senior gue yakni Bapak Dr. Billy Lazuardi. Beliau sendiri merupakan seorang Doktor di bidang Manajemen dan juga memiliki usaha penerbitan bernama Labersen. Saat itu gue bertanya tentang project beliau dalam suatu buku. Gue pun menanyakan bagaimana untuk menulis buku beserta publikasinya. Project buku tersebut berjudul “Komunikasi Organisasi sebagai Strategi Kesuksesan Bisnis”.

Dalam sesi diskusi kita, Pak Billy langsung mengajak gue untuk menulis buku di dalam project dia. Buku tersebut tentang komunikasi dan gue sekiranya bisa mengisi untuk menulis di dalam bukunya karena gue sendiri bergelar Magister Ilmu Komunikasi. Ditambah gue punya pengalaman-pengalaman kerja di bidang komunikasi serta mengajar di peminatan English for Digital Communication, maka gue rasa cocok untuk mengisi menjadi penulis di bukunya tersebut.

Awalnya gue sempat berpikir apakah bisa gitu menulis buku? Karena kebanyakan tulisan gue itu berbentuk artikel-artikel maupun konten kreatif dalam bentuk copywriting. Lalu dengan diskusi dan arahan, gue pun akhirnya memutuskan untuk coba terjun di dalam project penulisan buku tersebut.

 

Terlibat Dalam Dua Bab

Karena gue sendiri merupakan itungannya penulis pemula dalam konteks perbukuan, gue pun awalnya mencoba untuk satu bab di dalam buku tersebut. Awalnya, gue hanya memilih untuk mengisi Bab pertama yakni tentang “Komunikasi sebagai Jantung Organisasi”. Gue pilih untuk bab pertama karena itu merupakan bab tentang dasar-dasar komunikasi maupun komunikasi organisasi.

Bab pertama memang menitikberatkan dalam teori komunikasi dasar dan juga penerapan-penerapan komunikasi bagi antar individu di dalam kesehariannya, terlebih di dalam lingkup organisasi. Selain itu, di dalam bab pertama ini juga terdapat bagian gue menjelaskan tentang apa saja ciri-ciri komunikasi organisasi yang sehat.

Paham akan hal tersebut, gue coba untuk menulisnya dan juga mencari sumber-sumber referensi sebagai bagian dalam tulisan gue. Di dalam bagian babnya juga terdapat beberapa sub-bab sebagai pecahan dalam pembahasannya. Gue memerlukan kurang lebih sampai 3 minggu untuk membuat tulisan pada bab pertama.

Nah selesai di bagian bab pertama, munculah ide gue untuk menambah bagian bab lainnya yang ingin gue tulis. Yaa.. Awalnya gue pikir lumayan juga sebagai bagian pembelajaran gue dalam menulis buku ya. Selain itu, sebagai bahan gue menuangkan ide dalam menulis dimana gue udah cukup lama juga tidak menulis karya tulisan yang panjang ya. Maka gue langsung kontak Bapak Dr. Billy untuk menambah bab lainnya dan beliau pun menyambut permintaan gue.

Nah untuk bab kedua, bab tersebut berjudul “Budaya Komunikasi dalam Organisasi”. Dalam pembahasan ini bisa dikatakan cukup menitikberatkan pada bagaimana budaya komunikasi dalam organisasi bisa terbentuk. Disini, pembahasannya dimulai dari perbedaan antara budaya komunikasi terbuka vs tertutup. Selain itu, ada juga pembahasan mengenai bagaimana pengaruh nilai-nilai organisasi terhadap pola komunikasi. Pembahasan pada bab ini ditutup dengan topik membangun budaya komunikasi yang kolaboratif.

Untuk bab kedua sendiri bisa dikatakan gue membuatnya agak lebih lama waktunya dibandingkan dengan bab pertama. Kurang lebih sekitar 3,5 sampai dengan 4 minggu hingga akhirnya gue dapat menyelesaikan bagian bab kedua pada buku tersebut. Perlu diketahui, kedua bab tersebut merupakan satu kesatuan dalam bagian pertama dengan topik besarnya yakni “Fondasi Dasar Komunikasi Organisasi”.

Para penulis di dalam buku "Komunikasi Organisasi sebagai Strategi Kesuksesan Bisnis".

Oh ya, buku ini juga ditulis bersama dengan penulis-penulis lainnya dimana buku tersebut menjadi wadah bagi kami dalam mengembangkan ide, pemikiran, maupun berbagi pengalaman tentang komunikasi organisasi dengan melihat situasi era perkembangan zaman yang modern seperti sekarang ini.

 

Buku Yang Terdaftar di HKI

Cover buku "Komunikasi Organisasi sebagai Strategi Kesuksesan Bisnis".

Buku dengan judul “Komunikasi Organisasi sebagai Strategi Kesuksesan Bisnis” ini diterbitkan oleh penerbit Labersen dan telah terdaftar untuk HKI oleh Pemerintah Indonesia. Ini merupakan salah satu bentuk karya yang diharapkan bisa menjadi bagian dalam pemenuhan kebutuhan maupun pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya tentang ilmu komunikasi.

Selain itu, buku ini juga dapat menjadi referensi bagi peneliti, pengajar, mahasiswa/I, maupun bagi masyarakat luas yang ingin mengetahui lebih mendalam tentang komunikasi organisasi dalam lingkup bisnis. Diharapkan, buku ini juga bisa menjadi bagian dalam karya ilmu pengetahuan yang berguna bagi kemajuan pengetahuan di bumi Indonesia.

Nah bagi kalian yang mau membeli buku “Komunikasi Organisasi sebagai Strategi Kesuksesan Bisnis” yang diterbitkan oleh Penerbit Labersen, kalian bisa memesan dan mendapatkan buku ini lewat link disini ya.

Salam Komunikasi.

Sunday, November 17, 2024

One Step Higher, Mendapatkan Sertifikasi C.Ed

Menjadi seorang penulis atau writer memang pada saat ini merupakan salah satu jenis profesi yang cukup menjanjikan bagi beberapa kalangan orang. Menulis memang menjadi sebuah kemampuan dasar dimana kita sudah diajarkan sejak zaman kita sekolah dulu bukan? Meskipun semua orang bisa menulis, tetapi kemampuan lainnya yang perlu diperhatikan adalah kemampuan dalam menyunting sebuah hasil karya tulisan atau editing. Editing sendiri tidak bisa terlepas di dalam dunia penulisan dan perlu pendekatan yang lebih mendalam, sehingga kita bisa mengetahui apakah hasil tulisan tersebut layak untuk dipublikasikan ataukah tidak. Nah mengingat betapa pentingnya hal tersebut, gue pun akhirnya memutuskan untuk mengambil sertifikasi editor dalam bidang penulisan.

 

Mengambil Sertifikasi C.Ed (Certified Editor Book)

Untuk sertifikasi kali ini seperti sebelumnya yang gue infokan, gue mengambil sertifikasi di bidang yang sama yaitu penulisan. Namun, pendekatannya saja yang berbeda. Kali ini, gue berfokus di bagian penyuntingan atau editing. Di bidang penulisan sendiri gue sudah mendapatkan 2 sertifikasi sebelumnya yakni C.IW dan juga CBPA, jadi gue rasa sepertinya gue perlu meng-upgrade diri ke tahap selanjutnya.

Untuk sertifikasi ini, gue mengambil sertifikasi yang diselenggarakan oleh ESAS Management. Bagi yang belum tahu apa itu ESAS Management, tempat ini memang menyelenggarakan banyak sertifikasi yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan dan juga profesi pada masing-masing bidangnya. Nah untuk para penulis, ESAS Management menyelenggarakan Certified Editor Book atau C.Ed yang pas bagi para writer yang ingin meningkatkan kemampuannya di dalam dunia tulis-menulis.

Perlu diketahui untuk sertifikasi ini, para peserta setidaknya diharapkan sudah memahami bagaimana cara menulis dengan baik dan benar. Karena sertifikasi ini merupakan sertifikasi lanjutan, jadi bagi para writer yang ingin mengambilnya sih gue sarankan untuk mengambil di sertifikasi penulisan terlebih dahulu?

Lho, kenapa seperti itu? Ya, seperti yang gue sebutkan diatas. Ini merupakan sertifikasi lanjutan yang prosesnya berfokus kepada penyuntingan, sehingga kalian perlu memahami bagaimana konsep tulisan yang baik dan juga cocok untuk dipublikasikan ya.

 

Apa Saja Yang Dipelajari?

Pada sertifikasi C.Ed ini, para peserta akan diajarkan pada esensi menjadi seorang editor. Sesi awal dimulai dengan pengenalan 7 aspek editor yang perlu diketahui oleh para penulis. Tentu ini menjadi hal dasar sebelum berkecimpung langsung di dalam kegiatan penyuntingan yang penting sebelum proses penerbitan.

Setelah pengenalan terhadap esensi editor, coach memaparkan tentang soft skill yang perlu dikuasai oleh para editor. Beberapa soft skill tersebut diantaranya adalah seperti berorientasi pada detail, kreativitas, dan juga kemampuan dalam meneliti. Pada bagian ini, ketelitian menjadi hal utama karena jangan sampai adanya typo atau salah pengejaan yang bisa berdampak kepada kualitas hasil tulisan yang telah dibuat.

Lebih lanjut, coach juga memberikan informasi tentang prinsip kerja di dalam dunia editor. Para prinsip ini, seorang editor perlu memiliki beberapa prinsip seperti menerima naskah, memperbaiki sebuah karya tulisan, hingga mampu memberikan saran-saran yang berkualitas terhadap hasil karya tulisan yang telah didapat oleh editor untuk diperiksa lebih lanjut.

Dan yang terakhir, sesi pelatihan juga memaparkan tentang apa saja kode etik yang perlu diketahui oleh seorang editor. Pada kesempatan ini, seorang editor harus menghormati ciptaan dan sang pencipta hasil karya tulis dimana tertuang di dalam Undang-Undang Hak Cipta Nomor 28 tahun 2014. Selain itu, seorang editor juga harus bisa menjaga kerahasiaan sebuah dokumen atau hasil karya agar hasil karya atau kesimpulannya tersebut tidak tersebar luas sebelum waktu publikasi.

 

Proses Tes Untuk Mendapatkan Gelar Sertifikasi

Nah setelah proses pemaparan sesi materi dan diskusi, coach memberikan kita dua tugas yang perlu dilakukan untuk nantinya kita bisa mendapatkan gelar sertifikasi C.Ed. Pada kesempatan ini kedua tugas yang diberikan yakni memperbaiki sebuah naskah tulisan dan juga membuat sebuah outline suatu ilmu dimana kita perlu menyunting bagian-bagiannya.

Gue pun awalnya bisa mengerjakan proses penyuntingan naskah tulisan dengan lancar. Sementara untuk pembuatan outline materi sendiri gue memerlukan waktu 2 hari. Ya, karena membuat outline materi ternyata memerlukan sebuah konsentrasi, kreativitas, hingga detail yang mendalam karena kita perlu menjabarkan apa yang menjadi pokok materi di dalamnya.

Namun, kedua tugas tersebut dapat gue kerjakan dengan baik. Dan pada akhirnya gue berhasil mendapatkan gelar sertifikasi C.Ed atau Certified Editor Book. Sertifikasi ini gue rasa sangat penting untuk memperluas wawasan tulis-menulis gue dimana sekarang gue tidak hanya bisa menulis saja, tetapi mampu melakukan penyuntingan terhadap suatu hasil karya tulisan.

Secara umum bisa dikatakan bahwa sertifikasi ini menjadi langkah lanjutan yang gue miliki. Gue menjadi lebih memiliki kompetensi secara lengkap dalam dunia menulis, sehingga mampu mempunyai wawasan dimulai dari proses penulisan hingga penyuntingan.

Jadi buat temen-temen writer yang mau mencoba melangkah lebih jauh di dalam dunia penulisan, C.Ed bisa jadi langkah yang tepat untuk mengasah kemampuan kalian agar semakin dalam di dunia penulisan tersebut ya.

Sunday, December 24, 2023

2 Gelar Sertifikasi Dalam 1 Bulan? Why Not?

Yang namanya pengembangan diri pastinya gak melihat umur dan waktu bukan? Ada banyak hal yang bisa kita pelajari untuk bisa menambah ilmu-ilmu baru setiap waktu. Hal inilah yang gue lakukan untuk mengembangkan skill-skill agar bisa semakin lebih berkompetensi seiring perkembangan zaman yang ada. Bahkan, gue sampai mengambil 2 sertifikasi di dalam 1 bulan ini. Wah, pasti sibuk banget dong? Apakah susah untuk mengambil 2 sertifikasi tersebut di dalam waktu yang berdekatan? Tentunya tantangan waktu dan juga beberapa tes yang diberikan juga menjadi tantangan tersendiri ketika mengambil kedua sertifikasi tersebut. Mari kita kupas ceritanya berikut ini!

 

Mengambil Sertifikasi CPS (Certified Public Speaking)

Sertifikasi pertama yang gue ambil adalah yang berhubungan dengan komunikasi. Komunikasi merupakan salah satu hal yang cukup penting bagi gue, terutama untuk di lingkup profesional. Tentunya komunikasi juga salah satu kemampuan yang perlu kita kuasai agar bisa bersaing di tengah ketatnya kompetisi di dunia profesional.

Untuk bagian komunikasi, gue akhirnya mengambil sertifikasi Public Speaking. Lantas, mengapa mengambil Public Speaking? Hal ini bisa dilihat dimana gue awalnya mengambil S2 di bidang ilmu komunikasi. Selain itu, pengalaman kerja gue kebanyakan di bidang komunikasi. Entah di bagian Corporate Communication atau di Marketing Communication, keduanya menuntut gue untuk bisa berkomunikasi yang baik.

Karena kedua alasan tersebutlah yang memutuskan gue untuk mengambil sertifikasi ini. Nah untuk sertifikasi ini, gue mengambil kelas di WellDoneSkills dimana menawarkan program Certified Public Speaking atau CPS.

Program yang ditawarkan sendiri meliputi 3 hari kelas yang diadakan pada waktu sore hari, sehingga bisa dikatakan cukup fleksibel bagi kalian yang mungkin sudah bekerja. Pelatihan sendiri didampingi oleh 2 coach yang profesional di bidang public speaking, sehingga kita semua dapat terakomodisir untuk mengasah skill komunikasi publik kita.

Pada sesi hari pertama, kita diajarkan terlebih dahulu mengenai betapa pentingnya komunikasi di dalam aspek-aspek kehidupan. Selain itu, kita juga diajarkan mengenai hukum komunikasi efektif yang meliputi Respect, Empathy, Audible, Clarity, serta Humble. Lebih lanjut, di sesi hari pertama juga diajarkan bagaimana cara berkomunikasi secara percaya diri di depan audiens kita.

Di hari kedua, para peserta diajarkan mengenai apa saja yang menjadi hambatan dalam berkomunikasi. Materi juga dilanjutkan dengan apa saja mental block yang dihadapi ketika berkomunikasi di depan umum dan bagaimana cara menghadapinya. Menariknya, di sesi hari kedua ini juga diajarkan tentang micro expressions dimana kita mengetahui bagaimana ekspresi orang-orang dalam berkomunikasi.

Sementara untuk sesi di hari ketiga, para peserta diajarkan tentang elemen di dalam personal communication. Di sesi ini juga kita diberikan bekal psikoanalisis di segi komunikasi. Perlu diketahui, terdapat 88% persen di dalam pikiran kita berada di dalam bawah alam sadar sehingga kita perlu mampu untuk mengendalikan hal-hal seperti emosi, kreatifitas, dan yang lainnya. Hal ini dianggap penting agar kita mampu memberikan komunikasi yang efektif kepada lawan bicara kita.

Lebih lanjut setelah ketiga sesi diberikan, kedua coach memmberikan sebuah tugas untuk berbicara tentang pengenalan diri dan juga apa yang telah kita pelajari dalam bentuk video berdurasi beberapa menit. Tugas ini wajib dilakukan agar kita bisa mendapatkan gelar CPS nantinya.

Well Puji Tuhan, gue bisa membuat tugas video tersebut dengan baik dengan hasil yang memuaskan. Atas keberhasilan tersebut, gue pun akhirnya mendapatkan gelar Certified Public Speaking atau CPS. Hal ini pastinya bisa menambah sisi profesionalitas gue di bidang komunikasi.

 

Mengambil Sertifikasi CBPA (Certified Book and Paper Authorship)

Setelah mendapatkan gelar sertifikasi CPS, gue pun coba untuk mengambil sertifikasi lainnya. Kali ini sertifikasi tersebut berkaitan dengan bidang gue lainnya yakni penulisan. Penulisan bagi gue cukup penting karena gue sendiri sudah cukup lama berkecimpung di dalam dunia penulisan. Bahkan, pengalaman kerja gue juga banyak sebagai Content Writer maupun Copywriter sehingga sertifikasi ini gue rasa penting untuk kredibilitas sebagai penulis.

Memang, sebelumnya gue pernah mengambil sertifikasi penulisan C.IW di tahun 2021 kemarin. Namun, gue rasa sepertinya perlu meningkatkan kemampuan gue agar semakin paham di dalam dunia tulis-menulis. Selain itu, gue juga perlu menambah wawasan gue di dunia ini dimana semakin ketatnya persaingan dalam dunia menulis ini.

Untuk sertifikasi bagian ini, gue mengambil sertifikasi CBPA atau Certfied Book and Paper Authorship dari IEEEL Institute. IEEEL Institute juga bisa dikatakan salah satu tempat yang menyelenggarakan beberapa sertifikasi berskala internasional yang cukup bergengsi.

Lebih lanjut, untuk mendapatkan sertifikasi ini gue menggunakan jalur RPL atau Rekognisi Pembelajaran Lampau. Program ini khusus dibuat bagi para writer yang sudah memiliki portofolio di bidang penulisan. Tentunya beberapa hasil karya seperti jurnal karya ilmiah, publikasi di media, ataupun hasil harya tulisan-tulisan lainnya menjadi hal wajib untuk diserahkan sebagai bentuk pengesahan atas hasil karya yang dibuat oleh para penulis.

Tentunya hal ini bisa gue berikan kepada pihak IEEEL Institute dimana memang gue mempunyai cukup banyak hasil tulisan yang telah terpublikasi di media-media nasional ketika bekerja sebagai Corporate Communication sebelumnya. Selain itu, beberapa portofolio tulisan gue juga dimuat di dalam media digital yang bisa menambah nilai tambah untuk mendapatkan sertifikasi ini.

Untuk prosesnya sendiri bisa dikatakan cukup cepat dimana kita cukup melampirkan link portofolio hasil tulisan kita yang telah terpublikasi. Lalu setelahnya, dari pihak IEEEL Institute akan mengecek validasi hasil karya tulisan kita yang telah dipublikasikan tersebut. Cukup mudah bukan? Tentunya hal ini bukanlah menjadi masalah bagi para writer yang sudah punya banyak portofolio di bidang ini ya.

Setelah menunggu proses validasi, Puji Tuhan gue berhasil lolos validasi dan pihak IEEEL Institute menyatakan gue berhak untuk mendapatkan gelar Certified Book and Paper Authorship atau CBPA. Hal ini menjadi nilai tambah bagi gue agar semakin profesional di dalam dunia tulis-menulis sekarang ini.

Lantas, bagaimana rasanya mendapatkan dua gelar sertifikasi dalam 1 bulan? Rasanya pasti bangga. Namun, kedua gelar tersebut juga menjadi tantangan tersendiri bagi gue agar bisa terus terasah pada kedua kemampuan tersebut yakni komunikasi dan menulis yang terus berkembang seiring perkembangan zaman.

Well, balik lagi seperti yang gue bilang sebelumnya. Belajar tidak mengenal waktu, mengasah skill juga tidak mengenal umur. Ada kalanya kita perlu mengasah kemampuan-kemampuan yang ada agar bisa terus berkompeten di tengah semakin ketatnya dunia profesional sekarang ini.

So buat kalian yang ingin mengasah kemampuan-kemampuan yang kalian miliki, go ahead now.. Start to upgrade yourself now!

What's New?

Kuliah S1 Lagi? Sampai Pilih Jurusan PJJ Ilmu Komunikasi di UNSIA

 Halo teman-teman semua, apa kabarnya? Apakah kalian masih semangat untuk belajar atau mempelejari sesuatu? Pastinya kalau yang sudah bekerj...

Popular Post